Jenggala
Jenggala, ialah rimba kenangan masa kecilku kepada ayah. Rasa rindu yang kerap datang, terasa sumir seperti kabut yang melenakan, namun menyimpan ribuan duri yang menyakitkan. Kepada anak perempuannya, ayah tidak hanya menuntunnya berjalan, ia juga menjadi batu penjuru yang meneguhkan keberanian untuk menghadapi dunia. Dan akulah anak perempuan yang kini kehilangan batu penjuru.
Kata-kata terakhirnya, tumbuh menjadi bunga mawar yang selalu mekar di dalam ingatanku. Akarnya yang panjang menjalar jauh hingga ke relung jiwa; kujaga dan kurawat, lalu kukembalikan kepada semesta melalui goresan dan tata warna.
